Rahasia Saya Mau Kawin

 

Jogja Wedding

 

Rencana perkawinan menjadi misteri yang paling dinanti sekaligus ditakuti. Ada yang ragu-ragu lalu pilih berhenti, batal. Ada yang takut-takut tapi pilih maju terus. Bahkan, ada yang benar-benar membicarakannya saja bikin badan terasa gatal-gatal. Pada situasi yang sama ada dorongan, ikatan atau pelepasan.

Bagi saya, pernikahan bukan cara mengurangi masalah hidup. Tanpa menikah pun persoalan sudah ada. Apalagi saat harus hidup berdua. Tentu saja, masalah pasangan juga menjadi tanggung-jawab saya. Begitu juga sebaliknya. Ibarat formula 1 + 1 = 2 karena Anda tak lagi sendiri maka 2 akhirnya dibagi 2 juga. Hasilnya 1. Tetap saja bukan?

Apalagi alasan menikah karena dorongan agama. Saya berpikir kesana pun tidak. Bagi saya, agama mendorong umatnya untuk bahagia. Pernikahan hanya salah satu jalan untuk bahagia. Bukan satu-satunya jalan. Apakah saya punya alasan kuat atau teori dibaliknya? Maaf, tidak ada.

Setelah merenung di bawah pohon sawo selama satu bulan, akhirnya saya sadar saya menikah karena tak ingin kehilangan moment. Tak selalu peristiwa yang indah, saat duka termasuk momentjuga kan? Beruntungnya, istri saya juga punya tujuan yang sama. Jadi, kami tak perlu repot-repot lagi menyamakan visi.

Tujuan ini jadi mesin pendorog sekaligus bahan bakar kami menjalani hidup sehari-hari. Apakah kami “pasangan sempurna”?  Tidak! Saya pun tak tahu kenapa istilah itu sering muncul. Lalu, bagaimana dengan “pasangan tak sempurna”, “setengah sempurna”, “agak sempurna” atau “cukup sempurna”? Bagi saya, kesempurnaan bukanlah tujuan. Itu hanyalah efek samping dari proses yang berjalan indah dan nikmat.

Bagi Anda yang bingung antara mau nikah atau tidak, cobalah bertanya kepada pasangan Anda apa tujuannya mau hidup bersama Anda? Cobalah samakan pandangan. Proses menyamakannya tak sama seperti debat menyusun anggaran. Cobalah mendengarkan terlebih dahulu! Biasanya muncul kesegaran, keindahan dan kesejukan disana.

Yang lebih ngeri saat salah satu pasangan menikahi Anda karena nilai lebih yang Anda tawarkan. “Karena kamu cantik, sayang.” Atau “Masakanmu bikin aku polling in love deh.” Bayangkan, jika Anda tak cantik atau pandai memasak lagi. Akankah cinta itu masih ada? Well, perkawinan bukan pasar tempat bertemunya penjual dan pembeli, tempat ditukarnya uang dengan barang, atau barter cinta dengan kelebihan ini itu.

Ini murni sebuah pilihan untuk tak kehilangan moment.

ditulis oleh : Albertus Indratno (www.kawin.org)

 

Foto-foto prewedding di jogja? : http://bit.ly/1g0hbrn

Back to top ^|SHARE :D |Pinterest :))|Tweet :-*

Your email is never published or shared. Required fields are marked *

*

*